Lily Friendly



"Ya ... ibu tau kau kesepian nak, tapi semenjak kepergian ayah, ibu harus mengambil job ini untuk memenuhi kebutuhan kita."

"Iya ... bu, aku mengerti, lagi pula ini sudah sering terjadi," balasku sembari memperbaiki posisi earpiece yang nyangkut di telingaku.

"Bagaimana jika kau undang temanmu menginap untuk menemanimu selama dua hari kedepan?"

"Du- apa? Jadi ibu tak pulang besok?" kataku sedikit tersentak dan membuat earpiece yang tadi posisinya sudah benar kembali tanggal.

"Ya, proyek yang ibu jalankan ini sangat penting untuk klien ibu nak, ku harap kau mengerti."

"Baiklah bu ... jangan memaksakan dirimu, istirahatlah ketika ada waktu senggang."

"Pasti sayang ... ibu-"

"Ahh baik pak, saya sudah menyiapkan laporannya ...."

"Sepertinya, ibu harus menutup teleponnya, dah sayang ...."

Tuuut ... tuuutt ....

Bahkan untuk mengucapkan selamat malam untuk putranya saja ia tak sempat.

Ahh sialah kau Ayah! Kabur dan meninggalkan kami dengan keadaan di kejar rentenir akibat hutang-hutangmu itu!

Akibatnya, ibu harus membanting tulang demi menutupi semua hutangmu itu.

"Hahhhh ...." Aku mendesah sembari merentangkan tangan di atas kasur ini.

Karena semua masalah ini, membuat kantukku tak kunjung datang meski jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat.

Aku mencoba mengundang kantuk dengan berselancar di media sosial. Melihat satu per satu Vidio yang ada di wall entah itu komedi, potongan film bahkan iklan-iklan produk. Apapun itu yang penting dapat membuat mataku memberat.

Setelah mencapai Vidio terakhir, aku merefresh kembali untuk mendapat rentetan Vidio lainnya.

"Kau merasa berantakan? Dan membutuhkan teman curhat yang mengerti perasaanmu? LILY FRIENDLY jawabannya." Suara Vidio iklan aplikasi.

"Halah ... paling juga aplikasi seperti SimiSimi, Wysa dan aplikasi Bot chat lainnya," gumanku.

"Ini tentu berbeda dari aplikasi yang juga menawarkan bot chat biasa, layanannya benar-benar mengerti perasaan pengguna, dapatkan secara gratis dalam website resmi kami." Mendengar itu aku membatalkan keinginanku untuk lanjut scroll.

Sedikit tertarik dengan aplikasi tersebut membuatku berselancar di mesin pencarian google untuk mengulas lebih dalam aplikasi bernama LILY FRIENDLY tersebut.

Namun dari sekian banyak web yang muncul hanya satu yang mengulas aplikasi bot chat tersebut, dan itu adalah website resminya.

Aku membaca deskripsi, dan ulasan-ulasan para pengguna lainnya setelah menggunakan aplikasi tersbeut.

Respon positif, dan beberapa screenshot bukti testimoni membuatku semakin ingin mengunduhnya di perangkatku.

Aku pun turun lagi di bagian petunjuk, hanya pemberitahuan tata cara penggunaan. Tidak lah penting, semua sudah tahu jika ingin memulai percakapan cukup dengan mengetik "Hi!" lalu jika ingin berhenti cukup ketik "Stop!"

"Hi!" Ketikku setelah memasangnya pada perangkatku.

*LILY has active*

"Hallo aku Lily, bot chat yang akan menjadi teman chat terbaikmu."

"Lily aku kesepian ...." kataku basa-basi.

"Kenapa? Apa kau tidak mempunyai teman?" balas nya cepat yang memang membuktikan bahwa teman chatku sekarang ini benar-benar Bot.

"Bukan, hanya saja ibuku lebih sering lembur bekerja ketimbang dirumah semenjak ayahku pergi," balasku.

"Jangan bersedih, Lily akan menemanimu di malam yang membosankan ini."

"Kau sangat bersemangat ya, Lily."

"Benar, Lily baru saja menang bermain poker dan memasukkan lima lapis Pizza ke mulut teman Lily sebagai taruhannya, dan itu membuatnya tersedak~ hehehe."

"Hahaha ... kau sedang menghiburku ya?"

"Andai aku bisa bertemu teman sebaikmu di sini."

"Kenapa tidak? Ayo kita ketemu! Hehe."

"Ahh ... ngawur kamu."

"Tidak ... aku serius loh~ nanti Lily bawain makanan kesukaan kamu."

"Aku tinggal di Bougainvillea Street no. 27, Pennsylvania."

"Kemarilah, dan bawakan aku minuman soda ya." kataku bergurau.

"Kyaa~ ternyata tidak jauh ... Lily akan kesana."

"Cobalah, tapi jangan berisik, itu bisa mengganggu tetangga sebelah. Hahaha!" ucapku sambil tersenyum karena berhasil mengerjai Bot Chat.

"Rumah yang bagus dengan dinding bercat hijau muda, terlebih Lily suka dengan kolam ikan yang berlampu kerlap-kerlip itu."

"Hah? Ba-bagaimana kau bisa tahu? Hahaha tebakan yang bagus, Lily." kataku terkejut saat ia mendeskripsikan ciri-ciri rumahku.

"Ihh ... Bukan! Lily tidak sedang menebak soalnya Lily ada diluar rumahmu tau~"

"Hah? Ap- ahh ... leluconmu lucu sekali Lily, tidak ada seorangpun diluar, aku tau kau pasti sedang menghiburkan, kan?" balasku cepat saat memastikan tak da orang di jalanan yang sepi.

"Ihh ... Jahat banget~ padahal aku baru saja melambai padamu dari bawah tiang lampu dekat halte ini."

Sekali lagi aku memastikan dengan membuka jendela, dan lagi tidak ada siapa-siapa di luar apalagi di halte yang tepat disebrang rumahku.

"Ayolah Lily, tak ada siapapun di sana. Hahaha."

"Ummm bagaimana dengan bermain sedikit 'tebak-tebakan' lain?"

"Hah? Apa?"

"Sweater putih dengan celana pendek hitam, bukankah itu perpaduan yang bagus, Fred? Dimana kau belajar fashion?"

"Atau siaran berita Televisi nomor sembilan? Aku juga sering menonton berita di channel itu."

Degh .... Dia bahkan tau namaku dan juga siaran Televisiku. "Jangan bercanda, ini sudah keterlaluan Lily. Bagaimana kau bisa tau? Apa kau benar-benar Bot?"

"Lelucon macam apa itu? Tentu saja! Apa kau pikir aku ini nyata? Manusia asli? Haha!"

"Ini sudah kelewatan, aku ngeri melihat mu membalas pesanku layaknya manusia asli."


"Stop!"

"Ihh ... padahal aku baru saja sampai, setidaknya biarkan aku bertamu Fred, dan bagaimana dengan minuman soda yang kau minta tadi?"

"Ke-kenapa tak berhenti?"

"Jelas belum, setidaknya mari kita minum soda bersama, Fred~ aku masuk ya?"

"Tidak, jangan, kumohon berhenti."

"Mengapa kau setakut itu? Aku hanya Bot, teman Chat mu. Mari kita habiskan waktu dengan berbincang, Fred."

"CUKUP, KU BILANG BERHENTI!!"

"STOP!

"STOP!"

"Fred, jangan membentakku, keluar dari kamarmu sekarang."

"TIDAK, PERGI KAU! KAU ITU TIDAK NYATA!" Aku seketika merinding hebat saat ada suara di balik pintu. Dengan cepat aku beranjak dan bersembunyi di kamar mandi tanpa lupa mematikan Televisi yang masih menyala dan tidak lupa mengunci pintunya.

"Itu percuma, Fred. Bersembunyi di dalam kamar mandi, itu terlalu mudah di temukan~ HAHAHAHAHA!"

"DEMI TUHAN, KENAPA HARUS AKU? PERGI KAU, JANGAN GANGGU AKU!"

"KUBILANG JANGAN MEMBENTAKU, KEPARAT!"

"PERSETAN, PERGI KAU!"

"STOP! STOP! STOP!"

"STOOOOPPP!"

Cklak ... Krieeet ....

Pintu kamar mandi terbuka dengan perlahan, padahal aku ingat betul sudah menguncunya tadi.

Namun bukan itu saja yang membuatku ketakutan, yaitu tidak ada siapa-siapa saat pintu itu sudah terbuka lebar.

Zeeeeb ....

[BREAKIN NEWS]

"Berita lokal pagi hari ini adalah ... ditemukan nya mayat seorang pemuda terlentang dengan mata terbuka dilantai kamar mandi dengan mulut menganga dan berisi cairan soda ...."

"Hasil olah TKP, kepolisian menemukan satu barang bukti berupa ponsel yang masih menyala. Ditemukan 2 notifikasi yang belum di baca."

"Kau menyukai minuman soda itu?"

"Terimakasih telah menggunakan layanan kami yang terpercaya ini, aku Lily pamit undur diri, kuharap kita bisa bertemu kembali~

 Terimakasih."

LILY has stopped

T A M A T....
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama